Bogor - IPB University melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) resmi meluncurkan forum internasional Global Network for Advanced Agromaritime (GNAA) sebagai langkah strategis memperkuat kolaborasi global dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan ketahanan pangan.
Kegiatan GNAA berlangsung selama tiga hari, 20–22 April 2026, di Kampus IPB University, Bogor dan diikuti oleh 33 peserta dari tujuh negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, dan Kamboja.
Forum ini mempertemukan petani, nelayan, dan akademisi untuk berbagi pengalaman serta merumuskan solusi berbasis praktik lapangan.
Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, menegaskan bahwa GNAA merupakan platform kolaboratif lintas negara yang mempertemukan pelaku utama sektor agromaritim dengan akademisi. Ia menyampaikan bahwa peluncuran jejaring ini menjadi langkah konkret dalam menjawab berbagai tantangan global.
“Ini adalah wahana kolaborasi untuk menghadapi perubahan iklim, dinamika geopolitik, hingga potensi krisis pangan dengan mengedepankan kearifan lokal dan praktik terbaik dari masing-masing negara,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa GNAA menjadi inisiatif pertama jejaring global petani dan nelayan di kawasan ASEAN yang diinisiasi oleh IPB University.
Senada dengan itu, Kepala LPA2I IPB University, Dr Handian Purwawangsa, menjelaskan bahwa program ini bertujuan membangun jaringan kolaborasi antara komunitas pesisir, sektor pertanian, akademisi, dan pemangku kepentingan di kawasan regional.
Ia menuturkan bahwa keberagaman peserta mencerminkan kuatnya semangat kolaborasi lintas negara.
“Langkah besar ini didukung oleh perwakilan negara dan universitas mitra dari negara Taiwan, Thailand, Malaysia, Filipina, Brunei dan Kamboja, 4 orang petani dari negara Taiwan, Filipina, Brunei dan Kamboja, 2 orang nelayan dari Thailand dan Malaysia serta 10 orang petani dan 10 orang nelayan dari Aceh sampai Papua,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ketua Pelaksana GNAA 2026 yang juga sebagai Wakil Kepala Lembaga Bidang Inovasi, Alih Teknologi, dan Pemberdayaan Masyarakat LPA2I IPB University, Dr Roza Yusfiandayani, menyampaikan bahwa forum ini difokuskan pada penguatan solidaritas internasional melalui diskusi kelompok terarah dan pertukaran pengetahuan berbasis pengalaman nyata di lapangan.
“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realita yang dihadapi setiap hari oleh petani dan nelayan. Melalui jejaring ini, kami ingin memastikan inovasi teknologi dapat terhubung langsung dengan kebutuhan riil di lapangan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa GNAA diharapkan mampu melahirkan ekosistem kolaboratif yang mengintegrasikan inovasi akademik, teknologi, serta kearifan lokal guna mendukung keberlanjutan sektor agromaritim dan memperkuat ketahanan pangan di kawasan Asia Tenggara.
Tulis Komentar