Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Pemerintah Kabupaten Natuna memperkuat sistem observasi maritim di wilayah perbatasan Indonesia melalui penyediaan lahan untuk pembangunan High Frequency Radar (HF Radar). Penguatan tersebut ditandai dengan penandatanganan naskah perjanjian dan serah terima hibah antara Pemerintah Kabupaten Natuna dan BMKG di Kantor Pusat BMKG, Jakarta.
Pemerintah Kabupaten Natuna menghibahkan lahan seluas 6.060 meter persegi di Desa Pengadah kepada BMKG. Lahan tersebut akan digunakan untuk penempatan instrumen High Frequency Radar (HF Radar).
Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan, HF Radar digunakan untuk mengamati gelombang dan arus. Data hasil pengamatan tersebut digunakan untuk memvalidasi model BMKG dengan melihat kesesuaian antara data pengamatan dan hasil prediksi.
Menurutnya, Natuna memiliki posisi penting bagi Indonesia, terutama dalam konteks angin baratan dan musim hujan. BMKG juga telah membangun sistem pengamatan di Natuna, mulai dari radar cuaca S-Band hingga radar maritim.
"Natuna itu bukan hanya penting untuk BMKG, tapi penting untuk Indonesia. Karena kalau kita bicara cuaca, tentunya angin timuran itu pintu gerbangnya di Alor, Timor sana. Tapi kalau bicara angin baratan atau musim hujan, berarti pintu gerbangnya ada di Natuna,” ujar Guswanto.
Pada kesempatan yang sama, BMKG menghibahkan tanah seluas 32.453 meter persegi di Kelurahan Batu Hitam, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, kepada Pemerintah Kabupaten Natuna. Tanah tersebut akan dimanfaatkan sebagai tempat pemakaman umum bagi masyarakat Natuna.
Ia menegaskan bahwa pemanfaatan aset pemerintah perlu dilihat dari manfaatnya bagi masyarakat, bukan semata-mata dari luas maupun nilainya.
“Jangan dilihat luas maupun jangan dilihat nilainya, tapi lihatlah manfaatnya. Kita kan sesama pemerintah. Yang penting adalah manfaatnya sama-sama untuk masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia berharap kerja sama dan sinergi antara BMKG dan Pemerintah Kabupaten Natuna terus dikembangkan dalam berbagai sektor, tidak terbatas pada transportasi darat, laut, udara, dan kebencanaan. Ia juga menyebut peluang kajian kesesuaian agroklimatologi di Natuna, antara lain untuk komoditas vanili dan kopi.
Pembahasan turut mencakup potensi budidaya di sektor kelautan, seperti rumput laut, ikan, dan pembesaran lobster.
Tulis Komentar