Foto: Sejumlah warga memikul peserta kansoda'a saat pembukaan festival Wowine di Alun-Alun Merdeka Wakatobi, Sulawesi Tenggara. (ANTARA)
Wakatobi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatobi menggelar Festival Wowine sebagai ruang untuk menampilkan kisah ketangguhan perempuan maritim yang selama ini menjadi penopang kehidupan pesisir. Ajang ini diharapkan mampu memperlihatkan peran penting perempuan dalam menjaga tradisi, ekonomi, sekaligus identitas masyarakat di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Ajang tersebut sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan atas dedikasi perempuan di Wakatobi yang berperan penting menjaga keberlangsungan hidup keluarga. Mereka selama ini berjuang merawat rumah tangga, mencukupi kebutuhan sehari-hari, hingga memastikan anak-anak tetap bersekolah ketika para suami pergi melaut.
Bupati Wakatobi Haliana menegaskan bahwa festival tersebut lahir sebagai bentuk pengakuan atas peran perempuan Wakatobi yang menjadi pondasi utama dalam membangun keluarga. Ia menilai keberadaan perempuan bukan hanya sebagai penopang rumah tangga, melainkan juga sebagai kekuatan yang menjaga nilai, budaya, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.
"Kami tahu bahwa di Wakatobi, para ayah kami terutama laki-laki meninggalkan daerah untuk melaut. Dulu, mereka bisa pergi minimal satu tahun baru bisa pulang," kata Haliana, Senin (25/8/2025).
Ia menegaskan bahwa kepergian sosok laki-laki dalam sebuah keluarga menjadi ujian berat bagi seorang ibu. Tanggung jawab merawat, memenuhi kebutuhan hidup, hingga menyekolahkan anak-anak sepenuhnya berada di pundaknya.
"Ini peran-peran yang harus dilakukan seorang ibu," ujar dia.
Menurut dia, ketahanan mental dan sosial perempuan Wakatobi tercermin dari peran mereka yang tangguh dalam menjaga keutuhan keluarga. Karena itu, festival tersebut dimaknai sebagai bentuk penghargaan untuk mengangkat budaya yang menjadi kearifan lokal di Kabupaten Wakatobi.
"Selain itu, Festival Wowine tersebut juga dilaksanakan untuk memperkaya event-event dan atraksi di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Wakatobi," kata Haliana.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Wakatobi, Muhidin, menyampaikan bahwa Festival Wowine untuk pertama kalinya masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN). Sebelumnya, satu-satunya kegiatan pariwisata Wakatobi yang tercatat dalam agenda nasional hanyalah Wakatobi Wave.
"Tahun ini Alhamdulillah kita diberikan ruang dua Ken, yaitu Wakatobi Wave dengan Wowine," kata Muhidin.
Ia mengatakan Festival Wowine digelar secara khusus untuk para perempuan di Kabupaten Wakatobi. Seluruh panitia dan pengurus kegiatan ini pun melibatkan perempuan sepenuhnya.
"Memang dia spesial memang event-nya. Sehingga kalau kita lihat kondisinya hari ini kan kebanyakan perempuan, di panitianya itu semua perempuan," beber dia.
Menurut Muhidin, kegiatan Wowine pertama kali digelar pada 2017 sebagai ruang pertemuan budaya. Namun, pandemi COVID-19 sempat menghentikan aktivitas itu hingga akhirnya kembali digelar pada 2023 dan secara rutin berlanjut sampai 2025.
"Begitu saya masuk di Dinas Pariwisata 2024 maka saya coba gagas untuk dia masuk di Ken, dan Alhamdulillah lolos Ken 2024," ujar dia.
Ia mengatakan dalam kegiatan Wowine tersebut diselenggarakan berbagai agenda, mulai dari pameran UMKM perempuan Wakatobi yang menampilkan hasil karya lokal. Selain itu, terdapat satu kegiatan khas yang cukup unik, yakni memperlihatkan tradisi 'Hekente' sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
"Hekente ini tradisi perempuan bajo yang berusaha mencari ikan di laut untuk kebutuhan hari-harinya," tandas dia.
Muhidin mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk memperkenalkan budaya Wakatobi di mata Internasional maupun dunia, dalam rangka menarik kunjungan wisata ke daerah itu.
Tulis Komentar