Foto: Atlet Tenis Indonesia saat Davis Cup. (Dok. PP PELTI)
Jakarta — Federasi Tenis Internasional (International Tennis Federation/ITF) berpotensi menjatuhkan denda dan sanksi tegas kepada Indonesia menjelang gelaran turnamen Davis Cup World Group II.
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Tennis Seluruh Indonesia (PP PELTI), Andi Fajar Asti mengkritik keras kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ia nilai menahan perlengkapan pertandingan akibat kerumitan prosedur administrasi.
Penahanan barang tersebut berdampak langsung pada persiapan laga antara Tim Davis Indonesia melawan Rumania yang dijadwalkan berlangsung pada 18–20 September 2026.
Fajar menyoroti tindakan petugas Bea dan Cukai yang menahan kiriman spanduk resmi dari ITF. Barang seberat 100 kilogram tersebut, kata dia, merupakan perlengkapan khusus berstandar internasional yang bahannya belum diproduksi di dalam negeri.
Sayangnya, kata Fajar, pihak Bea Cukai melayangkan berbagai persyaratan dokumen yang dinilai berbelit-belit, padahal barang kiriman tersebut bersifat nonsirkulasi ekonomi.
"Iya, kemungkinan kita kena denda karena ribetnya birokrasi di Bea Cukai. Spanduk aja yang bukan buat bisnis ketahan," tegas Fajar kepada awak media, Rabu 26 Agustus 2026.
Ia menambahkan, PP PELTI terpaksa menerima kiriman dari ITF karena regulasi kejuaraan mengharuskan penggunaan spesifikasi materiil tertentu. Namun, beban biaya impor dan kerumitan regulasi lokal justru jauh melampaui nilai ekonomis barang itu sendiri.
"Ini sama halnya bantuan piala yang sifatnya sangat biasa. Seandainya bisa produksi sendiri, tentu kami tidak perlu menerima kiriman dari ITF," lanjut dia.
Ancaman Sanksi Berulang dan Kerugian Pembinaan
Kejadian ini memicu kekhawatiran berulangnya sanksi finansial dari federasi dunia. Pada awal 2026, Indonesia telah menerima sanksi berupa denda akibat kendala teknis serupa.
Penjatuhan penalti finansial dari ITF tidak hanya menyedot anggaran organisasi, tetapi juga menghambat program pembinaan atlet tenis nasional yang membutuhkan kepastian agenda kompetisi internasional.
"Awal tahun 2026 pun terjadi hal serupa. Indonesia kena sanksi dan sangat merugikan bagi pembinaan tenis Indonesia. Sanksi penalti berupa pembayaran yang nilainya tidak main-main," jelas Fajar.
Laga kontra Rumania pada pertengahan September mendatang menjadi krusial bagi skuad Garuda. Sebelumnya, Tim Davis Indonesia mencatatkan performa impresif setelah menumbangkan Togo dengan skor telak 3-0 di Lapangan Tenis GBK Senayan, Jakarta.
Terakhir, kata Fajar, terhambatnya persiapan teknis akibat penahanan logistik di Bea Cukai kini mengancam status tuan rumah Indonesia dalam ajang beregu putra tingkat dunia tersebut.
Tulis Komentar