maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

UGM Dorong Penguatan Regulasi Restocking Benih Ikan

$rows[judul]

Yogyakarta - Penebaran kembali benih ikan di perairan dan sungai atau restocking bertujuan tidak hanya untuk menjaga populasi ikan, tetapi juga mencakup perlindungan ekosistem secara menyeluruh. Selain itu, upaya ini juga diarahkan untuk mengurangi dampak penangkapan berlebih (overfishing) dan memperbaiki kualitas habitat.

Bahkan kegiatan konservasi ini menyediakan sumber protein alami yang ramah lingkungan serta menopang ekonomi masyarakat. Pasalnya, saat ini habitat ikan di sungai sudah mulai berkurang akibat kegiatan penangkapan secara ilegal seperti menggunakan setrum dan racun ikan. Oleh karena itu diperlukan penindakan hukum secara tegas serta penguatan regulasi penguatan regulasi nasional terkait restocking ikan, khususnya untuk ikan kecil di perairan darat.

Hal itu mengemuka dalam diseminasi hasil dan petunjuk teknis (juknis) restocking ikan wader pari (Rasbora lateristriata), Selasa (28/4). Kegiatan ini diikuti berbagai pihak pemerhati secara luring di Auditorium Biologi Tropika Fakultas Biologi UGM, serta daring melalui Microsoft Teams. Kegiatan ini diinisiasi oleh Tim peneliti Gama Wader Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada bersama dukungan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Dinas Kelautan dan Perikanan DIY.

Ketua tim riset Gama Wader, Prof Bambang Retnoaji menjelaskan bahwa peneliti telah menyusun draf tahapan sebagai panduan dalam pelaksanaan restocking yang berbasis konservasi. Upaya penyusunan panduan juknis ini tidak hanya untuk menjaga populasi ikan, tetapi juga menyediakan sumber protein alami yang ramah lingkungan serta menopang ekonomi masyarakat.

Untuk itu, ia merumuskan beberapa tahapan utama, mulai dari identifikasi lokasi, asesmen habitat, pemilihan benih, proses pelepasan, hingga monitoring dan evaluasi jangka panjang, agar proses dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Monitoring ini merupakan fase adaptasi kritis pasca stocking untuk mengetahui survival rate, pertumbuhannya,” lengkapnya.

Dosen Biologi UGM, selaku anggota tim peneliti, Dr. Luthfi Nurhidayat, menyebutkan lokasi utama yang dipakai untuk percontohan restocking di DIY adalah Sungai Baros dan Sungai Gandok karena dinilai memiliki kondisi habitat yang sesuai, masing-masing disebar 5.000 benih. Proses monitoring keduanya dilakukan sekitar 4 bulan setelah restocking. Rentang waktu ini dipilih karena dalam periode tersebut ikan wader pari sudah memasuki siklus reproduksi awal.

Hasilnya, dalam kurun 3–4 bulan sudah ditemukan larva ikan baru, yang menunjukkan bahwa populasi mulai berkembang secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada intervensi awal.

“Menariknya adalah dengan adanya wader meningkat keragaman jenis ikan lain juga meningkat. Restocking ini ternyata meningkatkan juga fitoplankton dan zooplankton,” ungkapnya.

Selain itu, tim UGM melakukan kajian mulai dari aspek ekologi, ekonomi, hingga sosial. Luthfi menekankan bahwa kualitas habitat menjadi faktor kunci dalam menentukan lokasi, termasuk kondisi perairan, keberadaan pakan alami seperti fitoplankton, serta ancaman seperti praktik penangkapan ilegal. Ia juga mengapresiasi tingkat sosial yang membantu.

“Kami lakukan itu sekitar 30%, sisa 70% itu dari masyarakat yang terlibat. Mereka memantau dan itu memberikan perlindungan yang lebih kuat,” ucapnya.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)