Bali - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Budidaya Laut (PRBL) mengembangkan pakan ikan kerapu berbasis chitosan sebagai upaya meningkatkan imunitas dan mendukung keberhasilan budidaya ikan laut bernilai ekonomi tinggi.
Peneliti PRBL BRIN, Haryanti, menjelaskan bahwa chitosan merupakan komponen aktif oligosakarida yang diekstrak dari kulit udang atau krustasea lainnya. Bahan alami ini berperan sebagai antioksidan, antibakterial, sekaligus imunostimulan, dan telah diuji melalui serangkaian uji laboratorium hingga pemeliharaan skala lapang.
“Ikan kerapu dipilih sebagai objek riset karena memiliki nilai ekonomi tinggi, baik di pasar domestik maupun global. Namun, hingga kini ketersediaan pakan yang efektif dan efisien untuk mendukung pertumbuhan dan imunitas ikan masih menjadi tantangan,” ujar Haryanti pada Rabu (21/1) di Bali.
Menurutnya, kerapu hibrida seperti cantang merupakan salah satu komoditas unggulan karena memiliki pertumbuhan relatif cepat, toleransi salinitas yang baik, serta kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan budidaya.
Hasil riset menunjukkan bahwa penambahan chitosan dengan konsentrasi 2–3 mL per kilogram pakan buatan terbukti mampu meningkatkan kekebalan ikan kerapu. Hal ini ditunjukkan melalui peningkatan profil sel darah, seperti sel darah merah, hemoglobin, dan hematokrit, sehingga ikan lebih tahan terhadap serangan penyakit, khususnya infeksi Viral Nervous Necrosis (VNN) dan Iridovirus.
“Dengan kondisi ikan yang lebih sehat, pertumbuhan dapat berlangsung optimal. Selain itu, chitosan bersifat ramah lingkungan karena berasal dari bahan alami, sehingga lebih aman dibandingkan penggunaan bahan kimia seperti antibiotik,” jelasnya.
Aplikasi chitosan dilakukan dengan mencampurkannya ke dalam pakan menggunakan teknik coating. Teknologi ini tidak hanya ditujukan untuk fase pembesaran, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas benih kerapu pada fase pembenihan.
“Meningkatnya kualitas benih akan berdampak langsung pada keberhasilan budidaya pembesaran, baik di tambak maupun di keramba jaring apung,” tambah Haryanti.
Kerja sama riset ini juga melibatkan mitra industri. Direktur PT Acetyl Indo Megah (AMI), Rich Tanaya, menyampaikan bahwa BRIN dipilih sebagai mitra pengembangan chitosan karena memiliki fasilitas riset serta sumber daya manusia peneliti yang berpengalaman.
“BRIN memiliki keunggulan SDM di bidang budidaya laut, nutrisi, genetik dan bioteknologi, hingga patologi, sehingga sangat mendukung pengembangan aplikasi chitosan,” ujarnya.
Ke depan, pemanfaatan chitosan diharapkan semakin luas untuk mendukung pengembangan budidaya ikan laut lainnya, tidak terbatas pada kerapu, sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sektor perikanan budidaya laut nasional.
Tulis Komentar