Banyuwangi - Seiring berkembangnya zaman, banyak teknologi berkembang untuk mendukung keberhasilan system budidaya ikan. Salah satu teknologi yang banyak berkembang dalam budidaya ikan adalah Bioflok.
Bioflok merupakan salah satu teknologi yang memanfaatkan bakteri baik sebagai pengurai kotoran ikan menjadi flok menyediakan makanan bagi ikan melalui penguraian limbah tersebut. Selain itu bioflok juga menawarkan solusi berupa kualitas air yang bagus untuk budidaya ikan dengan memanfaatkan bakteri baikBacillus sp. dan Lactobacillus sp.
Kami melaksanakan program kerja ini dengan menfokuskan tentang cara menjalankan system Bioflok, dan cara menangani ketika terjadi permasalahan dalam budidaya.
Kami juga memberikan pengertian pentingnya mengolah limbah air terhadap lingkungan dengan memanfaatkan budidaya Bioflok. Sistem Bioflok diperkenalkan sebagai teknologi yang sangat ramah lingkungan dalam budidaya perikanan yang efesien dan berkelanjutan.
BBK 7 Universitas Airlangga Desa Tegalsari II Berkaloborasi bersama Koperasi Merah Putih Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi dalam kegiatan penyuluhan tentang Bioflok, setelah itu pak Lukman selaku ketua Koperasi Merah Putih menerima dengan sukarela untuk membantu progam Bioflok ini.
Penyuluhan ini ditujukan kepada warga yang ingin mengetahui tentang bioflok serta team Bioflok dari Koperasi Merah Putih. Penyuluhan dan pendampingan ini dilakukan mulai tanggal 8 – 28 Januari 2026.
Selain itu sharing dengan pak Tsabit selaku ketua tim budidaya bioflok, dilakukan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi.
Progam kerja yang disusun oleh Tegalasari II ini secara langsung mendukung Sustainable Development Goals (SGDS) nomor 8 yaitu Decent Work and Economic Growth. Progam ini juga memiliki relasi terhadap SDGs nomor 12 Responsible Consumption and Production, dengan mendorong warga sekitar untuk berkontribusi secara langsung dalam budidaya Bioflok.
“Dalam budidaya awal, terjadi banyak kematian ikan karena kesalahan penenganan benih awal dan kualitas benih yang kurang bagus,” ucap Surya selaku penanggung jawab proker Bioflok kelompok BBK Tegalsari II.
Selain itu pada tanggal 20 Januari 2026 team Dinas Perikanan Banyuwangi melakukan Pengecekan kualitas air.
Menurut Pak Hari “Kualitas airnya sudah optimal tetapi nilai Amonianya terlalu tinggi yaitu mencapai 9 ppm”.
Diharapkan program Bioflok di Dusun Krajan 1, Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi ini dapat berjalan berkelanjutan dengan baik.
Tulis Komentar