UNDIP – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan inventarisasi ekosistem mangrove dan penyusunan fungsi ekosistem dalam Kesatuan Lanskap Mangrove (KLM) di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kerja sama yang dimulai pada Desember 2025 ini merupakan bagian dari program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).
Kegiatan tersebut mencakup tujuh KLM: Pantai Utara dan Pantai Selatan Jawa Barat; Pantai Utara bagian barat, Pantai Utara bagian timur, Pantai Selatan, dan Kepulauan Karimunjawa di Jawa Tengah; serta Pantai Selatan D.I. Yogyakarta. Tim UNDIP yang diketuai Prof. Dr. Denny Nugroho Sugianto, S.T., M.Si. mengkaji kondisi mangrove dengan memadukan analisis citra dan data spasial, survei lapangan, serta pengumpulan informasi sosial ekonomi masyarakat pesisir.
Salah satu temuan penting kajian ini adalah perbedaan kondisi ekosistem mangrove dan tekanan yang dihadapinya di setiap lanskap. Kawasan pantai utara, pantai selatan, dan kepulauan memiliki karakter pesisir yang berbeda. Di sejumlah lokasi, mangrove masih tumbuh dalam kondisi relatif baik. Di lokasi lain, ekosistemnya menghadapi tekanan akibat abrasi, perubahan penggunaan lahan, aktivitas budidaya, dan dinamika pesisir.
Perbedaan itu berpengaruh pada arahan pengelolaan. Kawasan mangrove yang masih baik membutuhkan perlindungan, sedangkan lokasi yang terdegradasi memerlukan upaya pemulihan sesuai kondisi setempat. Kajian ini juga mempertimbangkan hubungan masyarakat dengan mangrove, antara lain melalui perikanan, tambak, dan kegiatan wisata, agar arahan pengelolaan memperhatikan kebutuhan warga pesisir.
Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove bergantung pada kesesuaian tindakan dengan kondisi lokasi. Pada wilayah yang menghadapi abrasi dan gelombang kuat, pemulihan perlu mempertimbangkan dinamika pantai, sedimen, dan aliran pasang surut. Sementara itu, pada kawasan tambak yang tidak lagi produktif, pengelolaan dapat diarahkan pada pemulihan ekosistem yang tetap memperhatikan mata pencaharian masyarakat.
Peta kesehatan mangrove, keanekaragaman hayati, dan potensi biomassa di atas permukaan tanah. Informasi tersebut membantu menggambarkan peran mangrove sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna, pelindung alami pesisir, serta penyimpan karbon. Dengan demikian, manfaat mangrove dapat dilihat secara lebih utuh, baik bagi lingkungan maupun kehidupan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, tim UNDIP menyusun hasil inventarisasi, profil dan basis data ekosistem mangrove, serta peta batas, peta tematik, dan peta fungsi ekosistem mangrove. Pemetaan fungsi tersebut memberikan dasar untuk membedakan kawasan yang diarahkan bagi fungsi lindung dan fungsi budidaya. Hasil kajian akhir telah diterima oleh KLH sebagai bahan ilmiah untuk perencanaan perlindungan, rehabilitasi, dan pengelolaan mangrove.
Hasil kerja sama ini diharapkan menjadi pijakan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menyusun langkah pengelolaan yang sesuai dengan kebutuhan setiap KLM. Dengan dukungan data yang lebih rinci dan keterlibatan masyarakat pesisir, upaya menjaga mangrove di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan D.I. Yogyakarta diharapkan dapat berlangsung berkelanjutan serta memberi manfaat nyata bagi ketahanan pesisir dan kesejahteraan warga
Tulis Komentar