maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

Penguatan Ekoteologi, Kakanwil Lepas 500 Benih Ikan Lele

$rows[judul]

Lasusua — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, H. Mansur, S.Pd., M.A., bersama Bupati Kolaka Utara yang diwakili Asisten II Setda Kolut, Dra. Ratna, M.M., serta Wakil Ketua I DPRD Kolut, Muhammad Syair, S.Sos., melaunching program Penguatan Ekoteologi Ketahanan Pangan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kolaka Utara. Rabu, (1/4/2026).

Kegiatan ini ditandai dengan penaburan 500 benih ikan lele di Masjid Al Ikhlas Kolaka Utara, Rabu (1/4/2026), sebagai langkah konkret integrasi nilai keagamaan dengan upaya pelestarian lingkungan dan ketahanan pangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kemenag Kolut Alimuddin, S.Ag., M.H., Kabid Pendidikan Madrasah Hj. Sitti Mardawiah Kasim, Ketua MUI Kolut, Ketua Baznas Kolut, para pejabat pengawas, tokoh lintas agama, JFT, serta ASN Kemenag Kolut.

Dalam sambutannya, Kakanwil Kemenag Sultra H. Mansur menjelaskan bahwa ekoteologi memiliki tiga makna utama. Pertama, makna ekologis, yaitu pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya secara bijak. Penebaran ikan lele menjadi contoh konkret bagaimana lingkungan yang sebelumnya tidak produktif dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Kedua, makna ekonomis. Ikan lele dinilai sebagai salah satu sumber protein tinggi yang dapat mendukung ketahanan pangan masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Ketiga, makna spiritual. Menurutnya, manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memakmurkan alam. Hal ini sejalan dengan ajaran agama yang menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai pengelola bumi.

“Baik atau tidaknya kondisi alam sangat bergantung pada manusia. Karena itu, kita perlu menghadirkan kecerdasan ekoteologi, yaitu kesadaran untuk mencintai dan merawat lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai keagamaan,” ujar Mansur.

Ia juga menekankan bahwa kecerdasan ekoteologi harus melengkapi kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Tanpa kepedulian terhadap lingkungan, praktik keagamaan berisiko tidak memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan alam.

Program ekoteologi, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis Kementerian Agama dalam membangun kesadaran kolektif lintas agama untuk menjaga keseimbangan alam.

Kegiatan diakhiri dengan penebaran simbolis 500 benih ikan lele yang diharapkan dapat berkembang dan memberikan manfaat ekologis, ekonomis, serta edukatif bagi masyarakat sekitar.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)