SERANG – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menjadi tuan rumah Seminar Nasional Institut Supply Chain dan Logistik Indonesia (ISLI) 2026 yang diselenggarakan di Kampus Untirta Sindangsari, Kabupaten Serang, Rabu (28/10/2026). Mengusung tema “Resilient Maritime Logistics for a Sustainable Future”, kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi akademisi, praktisi industri, dan pemangku kepentingan dalam mendorong pengembangan sistem logistik maritim yang tangguh dan berkelanjutan.
Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi serta sektor industri. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 28–29 Oktober 2026, tersebut juga menjadi momentum bagi Untirta untuk memperluas jejaring kerja sama dan memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan logistik nasional.
Ketua Pelaksana Seminar Nasional ISLI 2026, M. Nurhasan Assidiq, S.T., M.MT., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti sekitar 49 peserta dari berbagai kalangan. Selain seminar utama, panitia juga menyelenggarakan kompetisi poster secara daring yang menarik 53 pendaftar dari berbagai perguruan tinggi.
Ia memaparkan bahwa rangkaian kegiatan hari pertama meliputi seminar utama, diskusi panel bersama akademisi dan praktisi industri, presentasi ilmiah paralel, serta workshop kurikulum logistik. Sementara itu, hari kedua dijadwalkan kunjungan edukatif ke kawasan bersejarah Banten Lama dan kunjungan industri ke kawasan pelabuhan.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berakhir di hari kedua, tetapi menjadi starting point atau momentum untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi dan praktisi dalam menghasilkan gagasan yang bermanfaat serta mendorong pengembangan sistem logistik dan rantai pasok yang tangguh,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Untirta sekaligus perwakilan Dewan Pembina ISLI, Prof. Dr.-Ing. Ir. Asep Ridwan, S.T., M.T., IPU., menyoroti potensi historis dan geografis Banten dalam mendukung pengembangan logistik maritim nasional.
Ia menjelaskan bahwa pada masa Kesultanan Banten, kawasan tersebut telah berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang didukung oleh infrastruktur pelabuhan, sistem transportasi, serta teknologi pengelolaan air yang maju pada zamannya. Salah satu peninggalan yang menunjukkan perkembangan teknologi tersebut adalah sistem distribusi air dari kawasan Tasikardi menuju pusat pemerintahan Kesultanan Banten.
“Bagaimana dulu Banten menjadi pusat maritim Dunia, pelabuhan Internasional, sementara sekarang kondisinya menjadi tantangan,” ungkapnya.
Tulis Komentar