Cibinong – Kemajuan riset genetika dan rekayasa reproduksi membuka peluang pengembangan benih unggul yang terstandar dan konsisten, sebagai fondasi industrialisasi budidaya modern. Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional, Puji Lestari menyampaikan bahwa sektor perikanan budidaya air tawar memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian nasional, namun masih menghadapi berbagai tantangan.
“Tantangan utama dalam pengembangan benih unggul yang terstandar saat ini adalah rendahnya efisiensi produksi, tingginya kerentanan terhadap penyakit, serta belum optimalnya pertumbuhan ikan yang sebagian besar bersumber dari mutu benih yang belum seragam dan konsisten,” ujar Puji dalam webinar bertajuk “Genetics-to-Industry: Teknologi Benih Unggul untuk Industrialisasi Budidaya Ikan Air Tawar” secara daring pada Selasa (10/2).
Forum ini mempertemukan hasil riset genetika dan bioteknologi perikanan dengan kebutuhan industri budidaya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dalam kesempatan itu, Puji juga menyoroti peluang pengembangan membangun jejaring kolaborasi antara periset, pembudidaya serta pelaku industri, sebagai upaya akselerasi penyediaan dan multiplikasi benih.
Menurut Puji, aspek kesiapan industrialisasi, yang meliputi penjaminan mutu, biosekuriti, kesiapan scale-up, dan penguatan rantai pasok, dapat ditranslasikan menjadi sistem produksi benih yang konsisten, terukur, dan berkelanjutan untuk mendukung industrialisasi budidaya ikan air tawar, sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai capaian riset, tetapi hingga pada implementasi pada skala industri.
Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pusat Riset Budidaya Air Tawar, Anna Octavera menyampaikan bahwa pihaknya saat ini tengah membuka seleksi proposal rumah program. Melalui program tersebut, ia berharap semakin banyak peneliti dan pemangku kepentingan yang terlibat guna memperluas jejaring penelitian di bidang perikanan air tawar.
Dalam paparannya yang berjudul “Teknologi Pembuatan Induk Pengganti dalam Rekayasa Reproduksi”, Anna menjelaskan bahwa sektor perbenihan masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari sulitnya pemijahan terkontrol, tingginya biaya pemeliharaan induk, hingga penurunan mutu benih akibat sistem perkawinan yang belum terkelola dengan baik. Ia mengungkapkan bahwa teknologi transplantasi sel germinal atau pembuatan induk pengganti menjadi salah satu solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut.
“Teknologi ini dilakukan dengan memindahkan sel reproduksi dari ikan donor ke ikan penerima yang steril, sehingga mampu menghasilkan keturunan dengan kualitas genetik unggul dari induk pengganti,” ujar Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Budidaya Air Tawar ORPP BRIN.
Menurut Anna, teknologi tersebut dapat diterapkan baik pada spesies yang sama maupun lintas spesies, serta didukung oleh pemanfaatan jaringan testis beku melalui kriopreservasi dan penggunaan sel dari ikan yang telah mati.
“Melalui teknologi ini, perbanyakan benih unggul dapat dilakukan lebih cepat, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus menjaga sumber daya genetik agar tidak mengalami degradasi,” ungkapnya.
Anna menambahkan bahwa penerapan induk pengganti juga berpotensi mendukung pelestarian plasma nutfah, pengembangan ikan monoseks tanpa hormon, serta mendorong industrialisasi perbenihan nasional yang lebih stabil dan berdaya saing.
Webinar ini juga menghadirkan, Professor dari IPB University, Alimuddin yang menyampaikan paparan “Rekayasa Genetika dalam Produksi Benih Ikan Unggul”. Ia menjelaskan bahwa ikan air tawar di Indonesia masih rentan terhadap penyakit sehingga hasil budidaya belum sepenuhnya optimal. Sebagai contoh, keragaman ikan mas yang memiliki banyak varietas, namun preferensi pasar cenderung mengarah pada ikan berukuran kecil.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa pengembangan benih unggul terus dilakukan melalui pemuliaan selektif, hibridisasi, serta penerapan teknologi genetik modern yang berpotensi meningkatkan produktivitas budidaya secara berkelanjutan.
Sementara itu, narasumber dari PT Suri Tani Pemuka Muhammad Fuadi menyampaikan paparan “Kondisi Terkini dalam Industrialisasi Budidaya Ikan Air Tawar”.
Ia menjelaskan bahwa industri perikanan budidaya saat ini membutuhkan ketersediaan benih unggul yang konsisten, sistem produksi yang efisien, serta penerapan penjaminan mutu dan biosekuriti secara terintegrasi. Ia menekankan pentingnya kesiapan peningkatan skala produksi, penguatan standar mutu melalui sistem Quality Assurance/Quality Control (QA/QC), serta pengembangan kemitraan dan strategi adopsi inovasi.
Melalui diskusi lintas instansi, kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang utuh sekaligus rekomendasi praktis agar inovasi benih unggul benar-benar dapat diadopsi dan memberi dampak nyata bagi industrialisasi budidaya ikan air tawar di Indonesia
Tulis Komentar