maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

IMM dan Ekoteologi Islam Berkemajuan

$rows[judul]

Oleh Muh. Al. Fatih Ghanim (Sekretaris Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman Pikom IMM Keperawatan FKIK Unismuh Makassar)*

Opini - Krisis lingkungan global saat ini menjadi salah satu tantangan terbesar umat manusia. Perubahan iklim, deforestasi, pencemaran air dan udara, hingga kerusakan ekosistem menunjukkan bahwa relasi manusia dengan alam berada pada titik yang mengkhawatirkan. Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah pun tidak luput dari persoalan tersebut. Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, serta krisis air bersih semakin sering terjadi dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Situasi ini menuntut lahirnya paradigma baru dalam memandang lingkungan. Pendekatan teknis dan kebijakan semata tidaklah cukup. Diperlukan pula landasan ideologis dan spiritual yang mampu membentuk kesadaran kolektif manusia. Dalam konteks inilah, ekoteologi Islam Berkemajuan hadir sebagai tawaran pemikiran yang relevan dan transformatif.

Sebagai organisasi kader, *Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)* memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk merespons krisis lingkungan. IMM tidak hanya berfungsi mencetak kader yang religius dan intelektual, tetapi juga dituntut menjadi pelopor gerakan sosial yang berpihak pada keberlanjutan dan keadilan ekologis.

Dalam Islam, konsep tauhid tidak hanya dimaknai sebagai pengakuan atas keesaan Allah, tetapi juga sebagai kesadaran bahwa seluruh alam semesta merupakan ciptaan-Nya. Manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi—pemegang amanah untuk menjaga, memelihara, dan memakmurkan alam, bukan mengeksploitasinya secara sewenang-wenang.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan (mizan) dan melarang segala bentuk kerusakan (fasad). Oleh karena itu, merusak lingkungan sejatinya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Ilahi. Sebaliknya, menjaga dan melestarikan alam merupakan bagian dari ibadah dan wujud keimanan.

Ekoteologi Islam Berkemajuan memaknai tauhid secara transformatif. Ia melahirkan etika ekologis yang menempatkan kepedulian lingkungan sebagai tanggung jawab spiritual. Dalam perspektif ini, gerakan lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan manifestasi nyata dari nilai tauhid dalam kehidupan.

Muhammadiyah dikenal dengan gagasan Islam Berkemajuan—Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Spirit tajdid (pembaruan) menjadi karakter utama gerakan ini, termasuk dalam merespons persoalan lingkungan hidup.

Islam Berkemajuan mendorong integrasi nilai-nilai agama dengan sains dan teknologi modern untuk menghadirkan solusi ekologis yang inovatif dan berkelanjutan. Lingkungan tidak dipandang sebagai objek eksploitasi ekonomi semata, melainkan amanah yang harus dikelola secara adil dan bertanggung jawab.

Dalam kerangka ini, IMM memiliki posisi strategis sebagai ruang kaderisasi intelektual. Kader IMM dituntut mampu mengkaji isu lingkungan secara ilmiah sekaligus menawarkan solusi yang berakar pada nilai-nilai Islam. Kampanye pengurangan sampah plastik, gerakan penanaman pohon, edukasi pengelolaan limbah, hingga advokasi kebijakan ramah lingkungan merupakan bentuk konkret aktualisasi Islam Berkemajuan.

IMM memiliki tiga basis gerakan utama: religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Ketiganya sangat relevan dalam membangun gerakan ekoteologi.

Pertama, religiusitas membentuk kesadaran spiritual bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan. Diskursus ekoteologi dapat diintegrasikan dalam kajian-kajian keislaman IMM agar kader memahami urgensi isu lingkungan dari perspektif Al-Qur’an dan Hadis.

Kedua, intelektualitas mendorong kader untuk melakukan riset, diskusi ilmiah, dan pengembangan gagasan tentang solusi ekologis. Kolaborasi dengan akademisi dan komunitas lingkungan menjadi langkah penting agar gerakan yang dibangun berbasis data dan pengetahuan.

Ketiga, humanitas menegaskan bahwa krisis lingkungan berdampak langsung pada kehidupan manusia, terutama kelompok rentan. Krisis air bersih, polusi udara, dan bencana alam sering kali paling dirasakan oleh masyarakat kecil. Oleh karena itu, gerakan ekologis IMM harus berpihak pada keadilan sosial.

Gerakan ekoteologi IMM tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Program nyata seperti *Green Campus Movement*, bank sampah IMM, atau kampanye gaya hidup ramah lingkungan menjadi langkah strategis agar IMM tampil sebagai agen perubahan yang nyata.

Terakhir, tantangan utama dalam membumikan ekoteologi adalah masih rendahnya kesadaran ekologis serta kuatnya paradigma eksploitatif terhadap alam. Isu lingkungan kerap dipinggirkan oleh kepentingan ekonomi dan politik jangka pendek.

Namun, peluang juga terbuka lebar. Generasi muda semakin sadar akan isu perubahan iklim dan keberlanjutan. Media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk kampanye lingkungan berbasis nilai Islam. Momentum ini harus dimanfaatkan IMM untuk memperkuat perannya sebagai organisasi mahasiswa yang progresif dan responsif terhadap isu global.

IMM dan Ekoteologi Islam Berkemajuan merupakan dua entitas yang saling melengkapi dalam menjawab tantangan zaman. Ekoteologi memberikan landasan teologis dan spiritual, sementara IMM menjadi wadah gerakan intelektual dan sosial.

Tauhid sebagai fondasi utama menegaskan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab kekhalifahan. Islam Berkemajuan menghadirkan pendekatan progresif yang memadukan nilai agama dan ilmu pengetahuan. Dengan mengintegrasikan keduanya, IMM berpotensi menjadi pelopor gerakan mahasiswa yang visioner dan berkeadaban ekologis.

Membangun peradaban yang berkeadaban tidak mungkin terwujud tanpa keberlanjutan lingkungan. Sudah saatnya IMM tampil di garda depan, tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi mewujudkannya melalui aksi nyata demi masa depan yang adil, harmonis, dan berkelanjutan.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)