Jakarta - Budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu sektor penting dalam industri akuakultur modern. Spesies ini dikenal karena pertumbuhannya yang cepat dan nilai ekonominya yang tinggi. Namun, di balik keberhasilan tersebut, terdapat tantangan serius yang masih dihadapi oleh pembudidaya, seperti tingginya angka serangan penyakit, penurunan kualitas lingkungan, serta penggunaan antibiotik yang berlebihan.
Penggunaan antibiotik memang efektif dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistansi antimikroba (AMR) dan berdampak negatif terhadap lingkungan perairan.
Sebagai respons terhadap permasalahan ini, para peneliti mulai mengembangkan pendekatan yang lebih berkelanjutan melalui konsep imunonutrisi. Pendekatan ini berfokus pada pemanfaatan zat gizi tertentu yang mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh hewan akuatik tanpa bergantung pada antibiotik. Salah satu kandidat potensial dalam bidang ini adalah mikroalga, organisme mikroskopis yang kaya akan senyawa bioaktif dengan berbagai fungsi biologis.
Penelitian terbaru dari tim Universitas Airlangga menelaah peran senyawa bioaktif yang berasal dari mikroalga sebagai imunonutrien alami pada udang vaname. Kajian ini dilakukan dengan metode literature review, yaitu mengumpulkan dan menganalisis berbagai hasil penelitian yang telah dilaporkan sebelumnya terkait penggunaan mikroalga dalam pakan udang.
Beberapa spesies yang dikaji antara lain Chaetoceros gracilis, Nannochloropsis sp., Tetraselmis sp., dan Chlorella sp., yang dikenal memiliki kandungan senyawa aktif berbeda-beda.
Analisis menunjukkan bahwa mikroalga mengandung komponen penting seperti asam lemak omega-3 (EPA dan DHA), karotenoid (astaxanthin dan fucoxanthin), polisakarida, vitamin, serta peptida antioksidan.
Senyawa-senyawa ini berperan dalam memperkuat sistem imun udang dengan meningkatkan jumlah sel imun (hemosit), mengaktifkan enzim pertahanan seperti phenoloxidase (PO), dan menstimulasi ekspresi gen-gen kekebalan seperti prophenoloxidase, crustin, dan lysozyme. Kombinasi berbagai senyawa tersebut menghasilkan efek sinergis yang membantu udang lebih tahan terhadap infeksi dan stres lingkungan.
Selain mendukung sistem imun, mikroalga juga berperan dalam menekan stres oksidatif yang timbul akibat kepadatan tebar dan fluktuasi kualitas air. Pigmen alami seperti astaxanthin dan β-karoten berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi sel dari kerusakan oksidatif, memperbaiki kualitas jaringan, serta memperkuat warna alami udang. Dengan manfaat tersebut, mikroalga dinilai sebagai inovasi hijau yang berpotensi menggantikan sebagian peran antibiotik dalam sistem budidaya.
Meskipun hasil penelitian menunjukkan potensi yang menjanjikan, penerapan mikroalga pada skala industri masih menghadapi sejumlah tantangan. Variasi komposisi kimia antarspesies dan perbedaan kondisi lingkungan budidaya dapat memengaruhi efektivitasnya.
Selain itu, biaya produksi dan proses ekstraksi senyawa bioaktif masih relatif tinggi. Diperlukan penelitian lanjutan untuk menentukan dosis optimal, meningkatkan efisiensi produksi, serta memastikan penerapannya dapat dilakukan secara ekonomis di lapangan.
Temuan ini menegaskan bahwa mikroalga tidak hanya berfungsi sebagai pakan tambahan, tetapi juga dapat menjadi “biofactory alami” yang menghasilkan senyawa penting bagi kesehatan udang. Dengan pengembangan teknologi yang tepat, pemanfaatan mikroalga berpotensi membawa akuakultur menuju sistem produksi yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan—sebuah langkah nyata menuju masa depan perikanan modern yang ramah lingkungan.
Tulis Komentar