Foto: Peserta Sekolah Duta Maritim Indonesia Batch 4 bersama Direktur Eksekutif Aspeksindo, Andi Fajar Asti mengulas sejarah berdiri dan perkembangan Aspeksindo. (Miky Ade Samudra/Aspeksindo)
Jakarta - Berdasarkan data, Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Setidaknya, Lebih dari 75 persen wilayahnya adalah laut, dengan garis pantai sepanjang lebih dari 99 ribu kilometer.
Potensi maritim yang luar biasa ini menjadi alasan lahirnya Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo) pada 10 Agustus 2017.
Sejak awal berdiri, Aspeksindo menjadi wadah bagi para kepala daerah pesisir dan kepulauan untuk duduk bersama, berbagi pengalaman, dan mencari jalan keluar atas berbagai tantangan yang dihadapi wilayah maritim. Tantangan itu diantaranya: pengelolaan perikanan, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga menjaga kelestarian laut.
Demikianlah penuturan Direktur Eksekutif Aspeksindo, Andi Fajar Asti saat mengulas sejarah berdirinya Aspeksindo, di hadapan 40 finalis Duta Maritim Indonesia 2025 di forum Sekolah Duta Maritim Indonesia Batch 4 yang diselenggarakan di Kantor Aspeksindo, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad, 10 Agustus 2025.
Fajar menjelaskan, Aspeksindo meyakini bahwa masa depan laut Indonesia juga bergantung pada keterlibatan generasi muda. Karena itu, melalui program Sekolah Duta Maritim Indonesia (SDMI), asosiasi ini mengajak anak-anak muda dari berbagai daerah pesisir untuk belajar langsung tentang potensi dan tantangan maritim.
“Kalian semua adalah anak muda penerus bangsa nantinya. Anak muda lah yang akan melanjutkan perjuangan dalam menjaga dan mengembangkan laut Indonesia. Oleh karena itu pembekalan sejak sekarang melalui SDMI sangat bermanfaat bagi para anak muda,” tegas Fajar.
Selain fokus pada pendidikan, Aspeksindo juga sudah mulai mendorong inovasi dan pengembangan usaha di sektor maritim. Banyak daerah yang kini mulai mengoptimalkan potensi wisata bahari, budidaya ikan, dan pengolahan hasil laut sebagai sumber pendapatan daerah.
Harapannya, kata Fajar, dengan pengelolaan yang tepat, masyarakat pesisir tidak lagi tertinggal dalam pembangunan. Sehingga maritim tak sekadar kebanggaan simbolis, tapi juga penggerak ekonomi yang nyata.
Tulis Komentar