MAMUJU – Riuh rendah kabar tentang potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements di tanah Mamuju kini bukan lagi sekadar obrolan di warung kopi. Komoditas yang kerap dijuluki "emas baru" di era teknologi global ini digadang-gadang mampu mengubah peta ekonomi Sulawesi Barat. Namun, di balik angka-angka proyeksi keuntungan bernilai miliaran rupiah, ada satu hal yang tak boleh luput dari perhatian: manusia yang hidup di atasnya.
Bagi masyarakat lokal Mamuju, tanah bukan sekadar hamparan koordinat geografis yang siap dikeruk. Tanah adalah warisan leluhur, tempat pohon-pohon cengkih, cokelat, dan sawit tumbuh menyambung hidup keluarga dari generasi ke generasi. Ketika potensi radioaktif alami dan LTJ mulai dieksplorasi, kecemasan yang paling mendasar pun muncul di benak warga: Bagaimana dengan air bersih, bagaimana dengan masa depan generasi penerus kami.
Merespons perkembangan ini, PP HIPERMAJU menegaskan bahwa pembangunan dan hilirisasi industri tidak boleh mengorbankan ruang hidup masyarakat.
"Kami tidak anti-kemajuan. Kami paham teknologi masa depan butuh sumber daya alam. Namun, kemajuan itu hampa jika harganya adalah hilangnya ruang hidup Masyarakat, tercemarnya lingkungan, dan tersingkirnya masyarakat adat." ujar M. Farchan A.Arsyad, Kabid Lingkungan Hidup PP Hipermaju.
Ada tiga pilar kemanusiaan yang mendesak untuk ditegakkan dalam pengelolaan LTJ di Mamuju:
* Transparansi dan Edukasi Tanpa Ketakutan: Mengingat sifat LTJ di Mamuju yang kerap berasosiasi dengan unsur radioaktif alami (seperti uranium dan thorium), masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jujur, terbuka, dan mudah dipahami mengenai dampak kesehatan serta lingkungan—bukan bahasa regulasi yang kaku.
* Keadilan Antargenerasi: Konsesi tambang tidak boleh meninggalkan lubang-lubang raksasa yang merusak bentang alam. Pemulihan lingkungan (reklamasi) harus direncanakan sejak hari pertama, agar anak cucu di Mamuju kelak tidak mewarisi tanah yang sakit.
* Kesejahteraan yang Mengakar: Masyarakat Mamuju tidak boleh hanya menjadi penonton atau buruh kasar di tanah mereka sendiri. Pendapatan daerah dari sektor ini harus dikonversi menjadi fasilitas pendidikan berkualitas tinggi dan layanan kesehatan yang merata.
Masa depan Mamuju tidak boleh hanya diukur dari berapa ton logam yang berhasil dikapalkan keluar, melainkan dari seberapa aman, sehat, dan sejahtera manusia-manusia yang menjaga tanah tersebut. Pemerintah, investor, dan masyarakat harus duduk bersama dalam kesetaraan—karena investasi terbaik sebuah bangsa adalah keselamatan rakyatnya.
Tulis Komentar